Kota Sodom dan Kota Pompei: sejarah Berulangnya Azab Dalam Maksiat



Di sebuah lembah subur di kaki Gunung Vesuvius, sejarah pernah menuliskan sebuah kota bernama Pompei. Kota itu bukan sekadar hamparan bangunan megah dan pasar yang sibuk, ia adalah panggung megah dari sebuah peradaban yang percaya bahwa hidup tak butuh batas. Di sana, syahwat bersalin rupa menjadi seni, dan dosa dijajakan laksana buah segar di pasar terbuka. Pada malam-malamnya, nyanyian mabuk terdengar lebih lantang daripada doa. Pagi-paginya, patung-patung dewa bercumbu dengan bayang-bayang yang lelah menunggu azab.

Pompei, pada masanya, adalah Roma kecil yang congkak. Mereka tak sekadar membangun kota; mereka membangun keyakinan bahwa dunia bisa bertahan tanpa langit. Tapi sebagaimana daun yang tampak hijau sebelum luruh, Pompei pun menyimpan keretakan yang tak kasat mata: keretakan moral, keretakan iman, dan keretakan pada fitrah manusia.

Tanggal 24 Agustus tahun 79 Masehi, tepat ketika matahari belum sempat merangkai senja, Gunung Vesuvius meletus. Bukan sekadar letusan, tapi seperti luka bumi yang mendidih. Asap hitam pekat menjulang ke langit, membentuk jamur kematian. Abu panas meluncur cepat, lebih cepat dari doa yang sempat dipanjatkan. Warga yang sedang menari, terkubur dalam posisi menari. Yang sedang tidur, tertidur dalam keabadian. Kota itu membatu. Waktu berhenti. Dan Pompei pun lenyap.

Berabad kemudian, ketika arkeolog menggali reruntuhan itu, yang mereka temukan bukan hanya batu dan arsitektur. Mereka menemukan peradaban yang membatu bersama maksiatnya. Di dinding-dinding rumah bordil itu, lukisan syahwat tetap menatap pengunjung dengan senyum menggoda, seakan berkata, “Beginilah kami merayakan kebebasan.”

Namun... benarkah ini kejadian pertama?

Sodom: Bayang-bayang Lama yang Dilupakan

Ribuan tahun sebelum Vesuvius menggigilkan bumi, di sebuah lembah yang kini dikenal sebagai Yordania dan Palestina, berdiri dua kota: Sodom dan Gomorrah. Mereka adalah cermin retak dari Pompei yang akan datang. Kaum Nabi Luth hidup dalam dosa yang nyaring. Mereka menjadikan hubungan sesama jenis sebagai budaya. Mereka mengusir Luth bukan karena ia membawa keburukan, tapi karena suara kebenaran mengganggu pesta mereka.

Maka langit pun kembali bersuara.

“Maka ketika keputusan Kami datang, Kami jungkirbalikkan kota itu, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar.”

(QS. Hud: 82)

Bumi pun berpaling. Kota itu dibalik. Langit menurunkan batu. Dan semua yang tertawa dalam dosa berubah menjadi sunyi abadi.

Pompei dan Sodom, dua nama yang terpisah oleh ribuan tahun dan benua, tapi dipertemukan oleh satu kesamaan: mereka merayakan maksiat, dan melupakan Tuhan.

Pliny dan Para Nabi: Dua Saksi yang Tak Bertemu

Pliny the Younger, seorang saksi mata kehancuran Pompei, menulis kepada temannya Tacitus:

“Langit gelap, orang-orang menangis, ada yang berdoa, ada yang berteriak putus asa. Kami merasa hari kiamat telah datang.”

Pliny tidak mengenal wahyu. Tapi catatannya, tanpa ia sadari, menjadi tafsir bisu dari ayat-ayat azab.

Sedangkan Luth, sang nabi, tak menulis surat. Ia menulis dengan air mata dan seruan. Namun kaum itu menutup telinga. Mereka memilih pelukan dosa daripada peluk kasih Tuhan.

Refleksi: Ketika Abu Menjadi Cermin

Allah tidak menurunkan azab tanpa sebab. Dalam Al-Qur’an, Dia berfirman:

“Dan Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri sebelum Dia mengutus di kota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka...”

(QS. Al-Qashash: 59)

Namun pada zaman Pompei, tidak ada nabi. Pompei berdiri di masa fatrah, masa antara Nabi Isa dan Nabi Muhammad ﷺ. Tapi bukan berarti mereka buta total. Nilai-nilai tauhid telah menyebar lewat umat Nabi Isa. Mereka punya kesempatan untuk berpikir. Tapi mereka memilih membutakan diri. Dan sunnatullah tetap berlaku: jika sebuah masyarakat secara kolektif melawan fitrah, maka bumi dan langit akan bicara.

Pelajaran dari Kota yang Membatu

Hari ini, kita hidup di zaman di mana dosa dijadikan konten, dan aurat dijadikan brand. Ketika norma ilahi dianggap kuno, dan syariat ditertawakan.

Maka kisah Pompei dan Sodom bukanlah dongeng. Ia adalah peringatan. Ia adalah kisah tentang kita, jika kita tidak belajar.

“Dan sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.”

(QS. Yusuf: 111)

Pompei = Sodom Zaman Romawi

Begitulah akhirnya. Sejarah tidak pernah benar-benar mati. Ia hanya berganti nama, wajah, dan teknologi.

Sodom pernah dihancurkan karena syahwat yang dilegalkan.

Pompei pun membatu karena dosa yang dijadikan budaya.

Dan dunia hari ini, mungkin tengah berdiri di antara keduanya.

Jika kita tidak belajar dari abu masa lalu, maka kita sedang menabur bara untuk kehancuran kita sendiri.

Salam Literasi.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Nabi Zakariya: Doa, Kesabaran, dan Mukjizat Anak di Usia Senja

Fatimah binti Muhammad: Putri Nabi dan Wanita Terbaik di Dunia

Prinsip Self-Hypnosis dalam Perspektif Islam