Al-Khawarizmi: Biografi, Sejarah, dan Kontribusi Sang Bapak Aljabar dan Algoritma
Bayangkan dunia tanpa kalkulator, tanpa komputer, tanpa peta yang jelas, atau bahkan tanpa cara menghitung sederhana seperti perkalian dan pembagian. Sulit, bukan? Tetapi itulah kenyataan sebelum seorang ilmuwan Muslim bernama Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi lahir dan mempersembahkan karya-karyanya.
Al-Khawarizmi lahir sekitar tahun 780 M di Khwarizm, wilayah yang sekarang dikenal sebagai Khiva, Uzbekistan. Ia hidup pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, tepatnya di Baghdad, di mana Bayt al-Hikmah (Baitul Hikmah) berdiri sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia. Bayt al-Hikmah bukan sekadar perpustakaan, melainkan tempat berkumpulnya para ilmuwan dari berbagai latar belakang: Muslim, Kristen, Yahudi, bahkan Zoroaster. Mereka menerjemahkan karya-karya Yunani, India, dan Persia ke dalam bahasa Arab. Di lingkungan intelektual inilah Al-Khawarizmi tumbuh.
Kisah Al-Khawarizmi bisa diibaratkan seperti seseorang yang menyatukan puzzle besar ilmu pengetahuan. Dari India ia belajar angka, dari Yunani ia memahami geometri, lalu ia meramu semuanya dengan kejernihan berpikir seorang Muslim yang haus akan ilmu.
Salah satu sumbangsih terbesarnya adalah buku “Al-Kitab al-Mukhtashar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabalah”. Judulnya panjang, tetapi dari sinilah lahir istilah “aljabar” (algebra) yang kini dipelajari seluruh siswa di dunia. Buku itu tidak hanya membahas angka-angka, tapi juga mengajarkan cara menyelesaikan masalah nyata, seperti perhitungan waris (yang dalam Islam diatur detail dalam Al-Qur’an), pembagian tanah, hingga perhitungan dalam perdagangan.
Bayangkan seorang pedagang Arab di pasar Baghdad pada abad ke-9. Dengan ilmu Al-Khawarizmi, ia tidak lagi bingung menghitung keuntungan, membagi hasil, atau menakar zakat. Inilah bukti bagaimana sains tidak pernah jauh dari kebutuhan sehari-hari.
Karya lainnya yang monumental adalah tentang sistem bilangan desimal. Dari dialah angka 0 (nol) diperkenalkan secara sistematis ke dunia Islam dan kemudian ke Eropa. Bayangkan, jika tidak ada angka nol, dunia hanya akan mengenal angka Romawi (I, II, III, IV…), yang sulit digunakan dalam perhitungan kompleks. Nol menjadi pintu masuk lahirnya teknologi modern.
Tak berhenti di situ, Al-Khawarizmi juga menulis tentang astronomi dan geografi. Dalam karyanya, ia membuat peta dunia yang jauh lebih akurat dibandingkan peta sebelumnya. Bahkan, ketika Khalifah Al-Ma’mun ingin menentukan arah kiblat ke Ka’bah, Al-Khawarizmi-lah yang merancang perhitungan koordinat bumi. Bukankah ini bukti bahwa ilmunya digunakan langsung untuk ibadah?
Di bidang komputasi, nama Al-Khawarizmi bahkan diabadikan dalam istilah “algorithm”. Kata ini berasal dari penyebutan namanya dalam bahasa Latin: Algoritmi. Algoritma hari ini menjadi fondasi utama komputer, internet, media sosial, bahkan kecerdasan buatan. Bisa dikatakan, setiap kali kita mengetik di ponsel, membuka Google, atau menggunakan aplikasi apa pun, ada jejak pemikiran Al-Khawarizmi yang bekerja di balik layar.
Apa yang membuat kisahnya semakin indah adalah bahwa ilmu yang ia tekuni selalu berlandaskan pada nilai Islam. Dalam banyak catatan, Al-Khawarizmi menekankan bahwa mencari ilmu adalah bagian dari ibadah, sebagaimana firman Allah:
“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
(QS. Az-Zumar: 9)
Al-Khawarizmi bukan sekadar matematikawan, ia adalah contoh nyata bagaimana ilmu bisa menjadi jalan menuju pengabdian kepada Allah. Ia hidup sederhana, penuh dedikasi, dan meninggalkan warisan ilmu yang terus hidup lebih dari seribu tahun kemudian.
Ketika dunia Barat mengalami zaman kegelapan, karya-karya Al-Khawarizmi diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Dari sinilah Eropa belajar berhitung dengan sistem Arab, yang kemudian mereka sebut “Arabic numerals”. Jadi, saat anak-anak sekolah di seluruh dunia belajar angka 1, 2, 3…, sebenarnya mereka sedang belajar dari seorang ilmuwan Muslim.
Al-Khawarizmi wafat sekitar tahun 850 M. Namun, seperti cahaya bintang yang tetap terlihat meski bintangnya sudah lama padam, begitu pula ilmunya. Ia adalah bukti bahwa pena seorang ilmuwan bisa mengalahkan pedang, dan warisan ilmu bisa melintasi zaman.
---
Referensi
Al-Khawarizmi, Al-Kitab al-Mukhtashar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabalah.
Al-Nadim, Fihrist al-‘Ulum.
George Sarton, Introduction to the History of Science.
Roshdi Rashed, The Development of Arabic Mathematics.
Seyyed Hossein Nasr, Science and Civilization in Islam.

Komentar
Posting Komentar